Senin, 29 April 2013

ELEARNING MANAJEMEN PUSKESMAS KE-3 : Prioritas masalah lanjutan


Selamat datang di Elearning Manajemen Puskesmas ke-3, 

bagi yang mengikuti elearning ini wajib mengisi absen di kolom komentar dengan cara ketik “nama mahasiswa hadir”.
Untuk mengisi absen di kolom komentar silahkan klik disini
Setelah anda mengisi absen maka bisa langsung mengikuti topik selanjutnya dengan cara klikdisini.

MPEL-4 : PENENTUAN PRIORITAS MASALAH METODE PAHO


Selain dengan metode matriks yang telah disampaikan pada elearning yang lalu, ada metode lain yaitu yang telah dibuat oleh Pan American Health Organization dan dikenal dengan metode PAHO.
Pada metode PAHO ini juga menggunakan skor pada setiap variabel penilaian, dengan menggunakan skor 1-10, dan penilaiannya lebih luas dibadingkan dengan matriks, yaitu :
Magnitude : adalah mengukur besaran kejadian, misal untuk kasus penyakit menular maka kita bisa menggunakan Angka total kesakitan (Prevalence Rate), BUKAN menggunakan Incidens Rate (kasus baru).
                 Makin besar kasusnya makin besar skor yang diberikan.
Severity : adalah tingkat keparahan, artinya kita melihat dari kasus tersebut :
·        Banyak menimbulkan kematian atau tidak
·        Penyebarannya Cepat apa tidak
·         Sebarannya luas apa tidak
Makin tinggi tingkat keparahannya maka skor makin besar.
Vulnerabelity : adalah tingkat kerentanan, disini dilihat dari sudut kemampuan kita untuk menanganinya, ketersediaan teknologinya dsb.
                 Makin tersedianya ahli, peralatan dan teknologi maka skor makin besar, dan makin sulit ditangani skornya rendah
Community / Political Concern : adalah tingkat perhatian , diukur dari perhatian para pengambil kebijakan dan masyarakat, biasanya kita lihat dari kehebohan masyarakat atau pimpinan daerah dalam menyikapi kasus yang sedang terjadi.
                 Makin tinggi tingkat perhatiannya maka makin tinggi skornya.
Penilaian dengan metode PAHO dilakukan oleh Tim (beberapa orang) dan dibutuhkan ahli untuk menyatukan persepsi dari semua tim penilai, karena kalau tidak maka akan banyak terjadi bias dalam penilaian.
Setelah masing-masing anggota memberikan penilaian maka diambil rata-rata, bila ada anggota tim yang menilai ekstrim maka nilai ekstrim tersebut dibuang, tidak masuk dalam rata-rata, selanjutnya nilai rata-rata tersebut dibulatkan.
Misal : untuk menilai magnitude kasus kejadian demam berdarah dengue (DBD) di suatu wilayah, anggota 1 memberi nilai 7, anggota 2 memberi nilai 8, anggota 3 memberi nilai 7, anggota 4 memberi nilai 3, maka angka 3 tidak kita pakai dalam menghitung rata-rata, jadi nilai hanya diambil rata-rata dari 3 orang anggota yang memberi nilai 7,8,7.
Setelah semua variabel diberi penilaian, maka masing-masing kasus kita hitung skor totalnya dengan cara : M x S x V x C
Tabel dikiri ini membantu kita untuk menentukan prioritas masalah, Total skor merupakan perkalian M x S x V x C.









Setelah total skor dihitung, maka kita ranking dari skor terbesar (ranking 1) ke skor terendah dan ranking tersebut merupakan urutan prioritas masalah yang harus ditangani.

Setelah penentuan ranking, maka tiap masalah kita analisa AKAR PENYEBAB MASALAHNYA dengan metode : Fish bone analysis atau Problem tree.


Selanjutnya anda jawab pertanyaan dibawah ini pada kolom komentar.
1.      Berdasarkan elearning yang lalu penentuan prioritas masalah bisa menggunakan metode matriks dan metode PAHO. 
  1. Coba jelaskan kelebihan dan kelemahan masing-masing metode tersebut.
  2. Jelaskan perbedaan metode menentuan akar masalah Fish bone dan Problem tree’s