Jumat, 02 November 2007

UNDANGAN TKHI DAN TKHD LAMPUNG

USIA LANJUT HARUS SEHAT

Gubernur Lampung Drs. Sjahroedin ZP, SH, sedang meninjau kelompok Usia Lanjut

HAK IBU UNTUK SEHAT


Hak Ibu untuk hidup sehat menjadi kewajiban Pemerintah untuk memberi pelayanan

HAK REMAJA UNTUK HIDUP SEHAT


Hak Remaja untuk hidup sehat menjadi kewajiban Pemerintah untuk memberi pelayanan

HAK ANAK UNTUK SEHAT




Hak anak untuk hidup sehat menjadi kewajiban Pemerintah untuk memberi pelayanan

Jumat, 26 Oktober 2007

INFORMASI PETUGAS HAJI LAMPUNG

SEHUBUNGAN DENGAN BELUM SELESAINYA PEMBAGIAN KLOTER BAGI JEMAAH HAJI LAMPUNG, MAKA PERTEMUAN TENAGA KESEHATAN HAJI LAMPUNG BELUM DAPAT DITENTUKAN WAKTUNYA.
SETELAH ADA KEPASTIAN KLOTER DAN PERLENGKAPAN MAKA AKAN DIINFORMASIKAN LAGI

JEMAAH HAJI LAMPUNG AKAN BERANGKAT GELOMBANG II, DIPERKIRAKAN MULAI AWAL DESEMBER 2007.

DEMIKIAN PEMBERITAHUAN SEMENTARA

Minggu, 30 September 2007

PENGUMUMAN BAGI CALON TKHI

Para Calon TKHI Provinsi Lampung agar segera mengirimkan :
Pas foto Ukuran 3 x 4 Model Paspor ( Kepala 80 % ) sebanyak 3 lembar

Untuk Pembuatan SPMA, dan kirimkan ke alamat :

Departemen Agama Kantor Wilayah Lampung, cq. Bidang Urusan Haji / ub Bp. Rusli,telp. 0721 470723 Jl. Cut mutiah Bandar Lampung

Selasa, 25 September 2007

Apakah pendapat ahli hisab itu mu'tabar (dapat dijadikan pegangan)?

Apakah pendapat ahli hisab itu mu'tabar (dapat dijadikan pegangan)?
Oleh : Ustadz Hari Febianto

Disalin sesuai aslinya oleh : Achmad Farich

Di dalam Kitabul Fiqhi 'alaa Madzahibil Arba'ah juz 1 hal 467 disebutkan:
"Tidak dapat dijadikan pegangan pendapat ahli hisab, maka tidak wajib berpuasa atas mereka dengan menggunakan hisab mereka. Juga tidak wajib berpuasa atas orang yang mempercayai pendapat ahli hisab. Karena syari' (Nabi Muhammad saw) mengaitkan puasa atas tanda2 yang tetap yang tidak berubah selamanya. Tanda2 itu adalah melihat hilal atau menyempurnakan bilangan 30 hari. Adapun pendapat ahli hisab: maka sekalipun didasari atas kaidah2 yang detil, maka kami memandangnya tidak tercatat/kuat, dengan dalil berbeda2nya pendapat mereka pada kebanyakan waktu. Inilah pendapat 3 Imam Mazhab (Hanafi, Maliki dan Hambali). Imam Syafei sedikit berbeda.

Di dalam catatan kaki kitab tsb disebutkan:
Adapun Ulama Syafei berpendapat: Pendapat ahli hisab itu mu'tabar (tapi) untuk dirinya sendiri dan untuk orang yang mempercayai si ahli hisab. Maka tidak wajib berpuasa atas manusia secara keseluruhan dengan menggunakan pendapat si ahli hisab, atas pendapat yang kuat. (alias tidak diumumkan). (Jadi yang tahu hisab boleh mengamalkan ilmunya, untuk diri sendiri. Tidak untuk disebarluaskan) .

Dr Wahbah az Zuhaili dalam al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz 3hal 1652 menjelaskan:
Menuruh Ulama Hanafi: dan tidak bisa dijadikan pegangan berita yang diberitahukan oleh ahli hisab, karena menyalahi syariat Nabi kita saw, karena sesungguhnya, sekalipun sah/benar hisab/penelitian itu, maka kita tidak diperintahkan secara syara' kecuali dengan ru'yah yang biasa.

Dalam juz yg sama hal 1653, menurut Ulama Maliki: maka hilal tidak bisa menjadi ketetapan dengan pendapat ahli hisab yaitu orang yang menghitung perjalanan bulan. Baik bagi si ahli hisab maupun yang lainnya. Karena Nabi mengaitkan puasa, Idul Fithri, haji dengan ru'yatul hilal. Bukan dengan wujudul hilal sekalipun perhitungannya benar. Maka mengamalkan dengan penelitian falak sekalipun benar, tidak boleh dan tidak dituntut secara syara' seperti yang lain.

Pada hal 1654, Dr Wahbah menjelaskan pendapat ulama Hambali: Dan tidak wajib puasa dengan sebab hasil hisab, sekalipun kebanyakannya tepat, karena tidak ada sandarannya terhadap apa yang dijadikan pegangan secara syara'.

Di dalam Taudhihul Ahkam syarah Buluguhl Marom juz 3 hal 132 disebutkan:
Ru'yah itu adalah yang dijadikan sandaran secara syara' di dalam hukum puasa dan Ied. Dan sesungguhnya tidak mu'tabar dengan hisab. Maka tidak sah bersandar dengan hisab pada segala hal keadaan.
Berkata Syeikhul Islam: Dan tidak ragu bahwasanya ketetapan dengan sunnah yang shohih dan atsar para sahabat bahwasanya tidak boleh berpegang atas hisab, dan bersandar kepada hisab. Sebagaimana itu sesat didalam syariah dan bid'ah di dalam agama. Dan dia itu salah menurut akal dan ilmu hisab. Karena sesungguhnya para ulama haiah mengetahui bahwa ru'yah tidak tercatat/terkait dengan urusan hisab. Karena hisab berbeda2 dengan sebab berbeda2nya ketinggian tempat dan rendahnya tempat dsb.

Di dalam Misbahuz Zhulam juz 3 hal 185 disebutkan:
Dari Ibnu Umar ra berkata: Aku mendengar Rosululloh saw bersabda: Apabila kamu melihat hilal maka berpuasalah, dan apabila kamu melihat hilal maka berIed-lah. Maka apabila terhalang awan, maka kadarkanlah. (muttafaq 'alaih)
Dan pada riwayat Muslim disebutkan: maka apabila tertutup awan atasmu, maka kadarkanlah baginya 30 hari.
Dan pada riwayat Bukhori: maka sempurnakanlah bilangan 30.
Dan hadits lain: dari hadits Abu Huroiroh ra: maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban 30.

Syeikh Muhajirin menjelaskan dalam kitab tsb:
Hadits ini menunjukkan atas perintah puasa apabila terlihat hilal secara praktek. Dan menunjukkan Ied apabila terlihat ru'yah secara praktek.
Maka puasa dikaitkan dengan penetapan hilal, dan Ied demikian juga. Dan pada hadits ini menunjukkan ketiadaan sandaran hisab bulan, baik 1 derajat maupun 2 derajat dsb. Maka masalah ini berpusat pada ru'yah malam 30, sya'ban pada penetapan romadhon, dan romadhon pada penetapan syawal.
Maka apabila kami menhukumkan bahwa hisab itu bisa dijadikan pegangan, tentu akan melazimkan tidak adanya hari syak. Karena dengan hisab akan menghilangkan syak. Padahal ada ketetapan pada riwayat Ammar mengenai hari syak. Maka hadits menunjukkan atas ketetapan adanya hari syak.....

Maka Jumhur ulama salaf menetapkan ru'yah dengan fi'il (praktek). Kesimpulannya dari penetapan hadits, bahwasanya apabila tertutup awan atas manusia, maka diperintahkan untuk menyempurnakan bilangan 30 hari.

2. Lalu, apa makna surah Yasin ayat 39-40 tsb? (Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malampun tidak dapat mendahuluinya. Masing2 beredar pada garis edarnya).

Di dalam tafsir al Khozin juz 6 hal 9 disebutkan:

Dan bulan, artinya Kami taqdirkan baginya ada beberapa mazilah, yaitu 28. Menempati tiap malam pada tempat turunnya, tidak melampauinya. Berjalan pada manzilah dari malam pertama hingga 28. Kemudian tertutup 2 malam atau satu malam yang berkurang. Apabila berada diakhir manzilahnya, lalu menjadi tipis dan berbentuk spt busur panah. Demikian firman Alloh: hingga kembali spt tandan kurma yang tua. Apabila datang, maka terbebas dan mengering dan berbentuk busur dan menguning. Maka diserupakan bulan dengan tandan kurma ketika selesai akhir manzilahnya.

Artinya Tidak masuk siang kepada malam sebelum selesai malam. Dan tidak masuk malam kepada siang sebelum berhenti siang. Keduanya saling bergantian. Satu keduanya tidak akan datang sebelum waktunya. Pendapat lain: tidak masuk salah satu keduanya pada kekuasaan yang lain. Maka matahari tidak terbit pada malam dan tidak terbit bulan disiang hari. Dan bulan punya cahayanya. Maka apabila berkumpul dan satu mendapatkan/ bertemu yg lain, terjadilah kiamat. Satu pendapat: bahwa matahari tidak berhimpun dengan bulan pada falak yang satu. Maka tidak bersambung satu malam dengan malam yang lain melainkan diselingi siang antara kedua malam tsb.

3. Hadits : Sesungguhnya kami umat yang umi, tidak menulis dan idak berhisab. Bulan itu demikian dan demikian artinya satu kali 29 dan satu kali 30 (HR Bukhori dan Muslim).

Imam Ibnu Hajar al Asqolani menjelaskan dalam Fathul Bari juz 4 hal 158:
Hadits: sesungguhnya kami (orang Arab) itu ummi. Tidak menulis dan berhisab. Satu pendapat: orang Arab itu ummi karena yang bisa tulis menulis pada mereka itu jarang. Tidak tertolak bahwa ada juga diantara mereka yang bisa menulis dan berhisab. Karena penulisan yang ada pada mereka sedikit dan jarang. Tidak ada yang tahu ilmu hisab melainkan sedikit saja. Maka dikaitkan hukum puasa dan lainnya dengan ru'yah untuk menghilangkan kesusahan pada mereka dalam memperhatikan hisab. Dan sekalipun terjadi setelah mereka, orang yg tahu hisab. Akan tetapi zhohir hadits menunjukkan penafian mengaitkan hukum dengan menggunakan hisab secara asal. Dan hadits Nabi juga menjelaskan jika tertutup awan atasmu, maka sempurnakan bilangan 30, Nabi tidak bersabda: maka tanyalah kepada ahli hisab....... ......... ......... ..

Selanjutnya dijelaskan" Dan sungguh syariat melarang memperdalam ilmu hisab karena ilmu tsb terdapat penaksiran2 dan juga pengira2an, tidak ada kepastian juga zhon yang kuat. Serta jikalau dikaitkan urusan dengan hisab sungguh menjadi sempit karena tidak ada yang tahu hisab melainkan sedikit.

Kata Ibnu Bathol, hadits ini untuk menghilangkan untuk memperhatikan hisab dengan aturan2 pengadilan. Hanyasanya yang dijadikan pegangan adalah ru'yah hilal, dan sungguh kami dilarang memberat2kan. Dan tidak ragu, bahwa dalam memperhatikan sesuatu secara mendalam hingga tidak mendapatkannya melainkan dengan sangkaan adalah taklif yang memberatkan.

4. Siapa yang pertama kali melakukan hisab.
Di dalam kitab Badai'uz Zuhur hal 51, disebutkan:
Dan ia (Idris as) adalah orang yang pertama kali menulis dengan pena, yang pertama menulis shuhuf, dan pertama kali yang melihat/mengetahui ilmu nujum dan hisab.

Juga di dalam Qishoshul Anbiya hal 28 disebutkan:ulama berpendapat bahwasanya beliaulah (Nabi Idris as) yang pertama kali membicarakan benda2 langit dan gerakan bintang2.

Alm KH Moh Roshi Sholeh dalam bukunya 'Rukyatul Hilal' hal 55, menjelaskan:
Menurut catatan ahli hisab, ilmu hisab falak itu sudah dikenal orang sejak lebih dari seribu tahun sebelum Nabi Isa lahir, terutama di Mesir, India dan Cina. Tetapi sampai sekarang ini hasil perhitungan hisab dari berbagai tabel yang banyak macamnya itu satu sama lain berbeda.

Beliau menjelaskan lagi:
Daftar atau tabel ilmu hisab yang dibuat para ahli hisab untuk menentukan ketinggian hilal, gerhana dan lainnya itu berjumlah ratusan buah dari berbagai negara termasuk pula dari Indonesia. Bahkan kalau daftar2 hisab itu dikumpulkan semua sejak dari zaman sebelum Nabi Isa sampai sekarang tentunya mencapai jumlahnya ribuan buah. Semua tabel itu dibuat oleh para ahli hisab falak pada zamannya. Masing2 menganggap tabel mereka itu benar. Tetapi kalau tabel2 itu dipergunakan untuk mencari tinggi hilal di suatu tempat, di Jakarta umapamanya, ternyata hasilnya tidak sama walaupun daftar2 tsb dibuat oleh negara2 maju seperti AS, Inggris, Rusia dll.

Jumat, 14 September 2007

Selasa, 11 September 2007

Petugas TKHI Lampung

DAFTAR TENAGA KESEHATAN INDONESIA
PROVINSI lAMPUNG
Dokter
  1. dr. Achmad Farich, MM
  2. dr. Eko Purnanto
  3. dr. Aidi
  4. dr. Dirhamsyah Rivai
  5. dr. Firdinand N
  6. dr. Herlina Rustam, M Kes
  7. dr. Kummailatun Hakikiyah
  8. dr. Lidia Arita
  9. dr. Maya Metissa
  10. dr. Ratna Adiningtyas
  11. dr. Sarma Deidi Saragih
  12. dr. Sukarti
  13. dr. Vanda Yogapuspita
  14. dr. Zulfikri

Paramedis
  1. Agus Setiawan
  2. Andi Susanto, S Kep
  3. H. Agus Indrianto
  4. H. Zawardi
  5. H. Dwi Djoko Purnomo
  6. Ismail. MZ
  7. Juariah, BSc
  8. Kemala Hayati, S Kep
  9. Muhammad Khadafi
  10. Prihadi Elta, S Kep
  11. Riwanti
  12. Sunarmin
  13. Abdul Samad
  14. Abu Yasin
  15. AH Syofriyadi
  16. Arlan
  17. Hidayad Heny Sholikhah, S Kep
  18. Imi Chumairah
  19. Nurhadi HS
  20. Nurhaini, AMk
  21. Sri Endang Pangestuti
  22. Sri Wahyuni
  23. Sufriani Safri
  24. Uluhiyah, SKM
  25. Wiznaningsih
  26. Yogo Krisworo
  27. Warti




Marhaban yaa Romadhan

Marhaban yaa Romadhan
            
Sucikan hati, Semoga selalu mendapat karunia
           dari Allah SWT


Mohon maaf lahir dan batin

Jumat, 11 Mei 2007

Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar

JANGAN SEMBUNYIKAN ILMU

Al Baqarah
ayat 159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan- keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari)
Kandungan Hadits
Tentang hadits diatas, setelah memaparkan keterangan yang menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa (arab), Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih (klasik) Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari, menjelaskan : Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.
Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengar kan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.
Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua, adalah karena keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga, karena tercela dan tidak bermanfaat.
Kemudian dalam setiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi, sedang perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama (Islam) namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkan tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya, "Orang yang tidak mau memikirkan" atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.
Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir diatasnya tapi tidak dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dengan perkataan beliau, "Dan tidak perduli dengan petunjuk Allah". Ath-Thibi mengatakan, "Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkan kepada orang lain. Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan untuk dirinya, tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama, karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dengan tanaman yang tumbuh, diantaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk dalam kelompok kedua seperti yang telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam, man lam yar fa' bi dzalika ro san. Wallahu a'lam"
Beberapa Hadis Rasulullah SAW lainnya :

1. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
2. Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)
3. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
4. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
5. Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani)

Jagalah Pandangan Mata Kita

Pernah seorang kawan bertanya : “ sanggupkah kita menjaga diri kita dari dosa selama 1 jam ? “ pertanyaan tersebut disampaikan secara main-main, tetapi maknanya cukup dalam.
Kita bayangkan sejak bangun tidur pagi sampai mau tidur malam siaran telivisi dirumah sudah menayangkan gambar-gambar yang mempertontonkan aurat baik pria maupun wanita, begitu keluar rumah kita banyak melihat wanita dijalan yang sengaja tidak menutup aurat dengan sempurna alias berpakaian sangat minim, bahkan kalau kita sedang mengendarai kendaraan tidak mungkin kita berpaling.
Padahal kita tahu bahwa mempertontonkan dan melihat aurat yang bukan muhrimnya sangat dilarang oleh agama, dan Allah Subhana Wa Ta’ala telah menurunkan firmannya, antara lain :

Surat At Tahrim ayat 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Surat Al A'raaf ayat 26
Hai anak Adam [530] , sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa [531] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
[530]. Maksudnya ialah: umat manusia
[531]. Maksudnya ialah: selalu bertakwa kepada Allah.

Surat An Nuur ayat 30
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

Surat Al Israa' ayat 36




Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dan lain-lainya nya, yang berisi pemberitahuan, contoh-contoh dan larangan serta hukumannya bila kita melakukan dosa ( maksiat ) terhadap Allah.

Rasulullah SAW, juga bersabda dalam hadisnya :
1. Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya. Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah dia ikut melakukannya. (HR. Ad-Dailami)

2. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “ Telah ditentukan bagi anak Adam ( Manusia ) bagian zinanya, dimana ia pasti mengerjakannya. Zina kedua mata adalah melihat, Zina kedua telinga adalah mendengar, Zina lisan adalah berbicara, Zina tangan adalah memukul, Zina kaki adaalh berjalan, serta Zina hati adalah bernafsu dan berangan-angan, yang semuanya itu dibuktikan atau tidak dibuktikan oleh kemaluan ( HR. Bukhari dan Muslim )

3. Sayyidina Ali Ra berkata: "Rasulullah menyuruh kami bila berjumpa dengan ahli maksiat agar kami berwajah masam." (HR. Ath-Thahawi)

4. Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

5. Tiada seorang berzina selagi dia mukmin, tiada seorang mencuri selagi dia mukmin, dan tiada seorang minum khamar pada saat minum dia mukmin. (Mutafaq'alaih)

6. Penjelasan:Ketika seorang berzina, mencuri dan minum khamar maka pada saat itu dia bukan seorang mukmin.
7. Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa'i dan Ahmad)

8. Dari Abu Sa’id Al khudri ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “Jauhilah oleh kalian duduk dijalan-jalan.” Para sahabat berkata : “ Wahai Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami (dijalan) yang kami gunakan untuk berbincang-bincang.” Rasulullah saw bersabda : “ Apabila kalian enggan untuk tidak duduk disana, maka penuhilah hak jalan itu” Para sahabat bertanya : “Apakah hak jalan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Yaitu memejamkan mata, membuang kotoran, menjawab salam, serta menyuruh berbuat baik dengan mencegah kemunkaran.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Setelah membaca ayat-ayat Allah dan hadis Rasulullah saw., maka perlu kita renungkan, sudah kita mampu menjaga diri kita, keluarga, tetangga, handai tolan serta masyarakat di sekeliling kita dari pandangan maksiat ?
Jawabannya tentu ada dalam diri kita masing-masing, tentunya kita selaku hamba Nya akan terus berusaha untuk melaksanakan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, Amiin.

Oleh : Achmad Farich

Jumat, 06 April 2007

RAHASIA SHOLAT SUBUH

Rahasia Shalat Subuh
Oleh : Dr. dr. Barita Sitompul SpJP ( Ahli Penyakit Jantung )

Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki. Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu.

Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalatselanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah "ash shalatu khairun minan naum".
Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat "ash shalatu khairun minannaum"?Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain.Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baikkarena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat itu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta ataubus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati. Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.

Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.
Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur. Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini.
Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat "ash shalatu khairun minan naum"?

Shalat subuh lebih baik dari tidur?

Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok).
Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu:Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin. Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran. "Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu".
Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitianmaka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida.

Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.
Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipindan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga. Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.
Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular.Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular.
Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawanpeningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus.

Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO.

Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar.
Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuhan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid.
Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini. Amien.

Disadur dari daarut-tauhiid@yahoogroups.com

Jadwal Puasa Sunnah

Jadual Puasa Sunnah Yang Dianjurkan Islam - Tahun 2007
Bottom of FormKetika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu, maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar berpuasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah sendiri biasa melakukannya.Berikut adalah jadual 'Puasa Sunnah' sesuai penanggalan Masehi. Tahun 2007.Semoga manfaat.------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
1. Puasa pada hari Senin dan Kamis.
2. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan-'shaumul biidh'- Yakni pada tanggal 13.14.15 - penanggalan Islam - saat bulan purnama.-
4, 5 Januari 2007/ Dzulhijjah 1427 H. Tanggal 3 Januari 2007 bertepatan dengan hari tasyriq - 13 Dzulhijjah 1427 H. Hari tidak diperkenankan berpuasa.-
1, 2, 3 Februari 2007/ Muharram 1428 H-
3, 4, 5 Maret 2007/ Shafar 1428 H-
1, 2, 3 April 2007/ Rabi'ul Awwal 1428 H-
1, 2, 3 Mei 2007/ Rabi'ul Akhir 1428 H-
30, 31 Mei & 1 Juni 2007/ Jumadil Awwal 1428 H-
28, 29, 30 Juni 2007/ Jumadil Akhir 1428 H-
28, 29, 30 Juli 2007/ Rajab 1428 H-
26, 27, 28 Agustus 2007/ Sya'ban 1428 H
Puasa Ramadhan 1428 H : 13 September 2007 - 12 Oktober 2007.-
25, 26, 27 Oktober 2007/ Syawwal 1428 H-
23, 24, 25 November 2007/ Dzulqa'idah 1428 H -
24, 25 Desember 2007/Dzulhijjah 1428H.
Tanggal 23 Desember 2007 bertepatan denganhari tasyriq -
13 Dzulhijjah 1428 H. Hari tidak diperkenankan puasa.

3. Puasa 1/3 (sepertiga) bulan - Yakni di bulan Dzulhijjah.Antara 22 Desember 2006 - 19 Januari 2007 /Dzulhijjah 1427 H Antara 11 Desember 2007 - [sekitar 8 Januari 2008] /Dzulhijjah 1428 HPuasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji.Yakni : 19 Desember 2007/Dzulhijjah 1428 HTidak boleh berpuasa :Hari Idul Adha - 10 Dzulhijjah/ 20 Desember 2007Hari tasyriq - 11,12,13 Dzulhijjah/1, 2, 3 Januari 2007/Dzulhijjah 1427 H dan 21, 22, 23 Desember 2007/Dzulhijjah 1428 H

4. Puasa bulan Muharram - 'Asyura' selama 3 (tiga) hari - tanggal 9,10,11 Muharram.Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 ( Tasu'a dan 'Asyura ) Yakni : 28, 29, dan 30 Januari 2007/Muharram 1428 H.

5. Puasa pada sebagian bulan Sya'ban. Antara 14 Agustus - 12 September 2007.

6. Puasa pada bulan Syawwal - 6 hari.Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawwal Antara 14 Oktober - 10 November 2007.

7. Puasa Daud - berpuasa selang-seling. Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.

Ringkasan - Referensi :Fiqhus Sunnah Sayyid SabiqTamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-AlbaniAl-Islam- Pusat Informasi dan Komunikasi Islam IndonesiaKalender Tahun 2007 - Terbitan Gema Insani.

Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar

JANGAN SEMBUNYIKAN ILMU
Al Baqarah
Laknat Allah terhadap orang-orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah dan terhadap orang-orang kafir


ayat159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan- keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari)
Kandungan Hadits
Tentang hadits diatas, setelah memaparkan keterangan yang menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa (arab), Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih (klasik) Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari, menjelaskan : Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.
Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengar kan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.
Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua, adalah karena keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga, karena tercela dan tidak bermanfaat.
Kemudian dalam setiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi, sedang perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama (Islam) namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkan tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya, "Orang yang tidak mau memikirkan" atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.
Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir diatasnya tapi tidak dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dengan perkataan beliau, "Dan tidak perduli dengan petunjuk Allah".
Ath-Thibi mengatakan, "Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkan kepada orang lain. Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan untuk dirinya, tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama, karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dengan tanaman yang tumbuh, diantaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk dalam kelompok kedua seperti yang telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam, man lam yar fa' bi dzalika ro san. Wallahu a'lam"

Beberapa Hadits Rasulullah SAW lainnya :

1. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
2. Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)
3. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
4. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
5. Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)
6. Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani)

Achmad Farich